Langkah Baru di Usia Dua Belas

Kehidupan Pondok Thusina IIBS Malang

img - Thusina o-week 12.9

Minggu pagi, 20 Juli 2025, adalah awal dari sebuah babak baru dalam hidupku. Di usia dua belas tahun, saat teman-teman seusiaku masih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, aku justru mulai berkemas menuju kehidupan baru—tinggal di asrama dan belajar di pesantren.

Hari itu, langit cerah seolah ikut menyambut langkah baruku. Aku ditemani Ayah, Ibu, Adik, Kakek, dan Budhe. Kami berangkat pagi-pagi sekali, menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari rumah menuju pesantren yang akan menjadi tempat tinggalku selama beberapa tahun ke depan. Walau masih berada di kota yang sama, perasaan tetap campur aduk. Bahagia karena memulai sesuatu yang baru, tapi juga ada rasa gugup, bahkan sedih karena harus berpisah sementara dengan keluarga.

Ayah sering berkata, “Hidup itu tentang proses, Nak. Nikmati saja, nanti kamu akan terbiasa.” Kalimat itu yang selalu aku ingat-ingat sejak pagi tadi. Aku tahu, Ayah menyembunyikan rasa harunya di balik senyum dan kata-kata bijaknya. Ibu pun terlihat sibuk memeriksa barang bawaanku, memastikan semua lengkap. Tapi dari matanya, aku bisa melihat kekhawatiran dan rasa sayangnya yang begitu dalam. Adikku masih kecil, ia belum mengerti banyak, tapi dari genggaman tangannya yang erat aku tahu, ia akan merindukanku.

Sesampainya di pesantren, kami disambut oleh beberapa ustadz dan santri senior. Suasana terasa asing, tapi hangat. Teman-teman baruku tampak ramah, meski kami belum sempat banyak berbicara. Setelah menyerahkan semua perlengkapan dan menyelesaikan proses pendaftaran, tibalah waktu berpisah. Rasanya seperti melepas sebagian hatiku, tapi aku tahu ini bukan perpisahan selamanya.

Di dalam hati, aku berdoa, semoga Allah meridhai langkah ini. Aku ingin belajar sungguh-sungguh, bukan hanya untuk membanggakan orang tua, tapi juga untuk mengejar cita-cita yang sejak lama aku impikan. Meninggalkan rumah memang tak mudah, tapi aku percaya, setiap langkahku di pesantren ini akan menguatkan dan membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih baik.

Hari itu, aku belajar satu hal penting: berani melangkah adalah awal dari segala pencapaian.
Link copied to clipboard.